IMG_2704_edited.jpg

A.G PURNAWIBAWA

IRSYAD LEIHITU

IRENE SWASTIWI

TRISHA LARASATI

PRESERVING IMAGE OF THE PAST

Application of Combined Documentation Techniques for Recording Damaged and Newly-found Rock Art in Muna Island

Merekam Gambar Cadas yang Kian Terancam

Pulau Muna, Sulawesi Tenggara

Januari 2020

Rock Art atau gambar cadas merupakan landscape art yang dapat berupa gambar, motif, atau desain yang terletak di alam, misalnya karang, gua, dan hamparan tanah (Whitley, 2005). Di Indonesia, gambar cadas tersebar dari Indonesia Timur hingga Indonesia Barat dan digambarkan dalam berbagai warna, mulai dari putih, hitam, hingga merah. Salah satu pulau yang menyimpan pesona gambar cadas ini adalah Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (2017) mencatat setidaknya ada 28 lokasi ditemukannya gambar cadas dan terus bertambah seiring adanya laporan dan temuan baru dari masyarakat. Dari 28 lokasi tersebut, baru 10 gua yang sudah diteliti dengan intensif, medan yang sulit dijangkau menjadi salah satu penyebab sulitnya melakukan penelitian arkeologi di pulau ini.

Pada tahun 2019, kami memperoleh kesempatan untuk mendokumentasikan gambar cadas pada beberapa gua yang ada di Pulau Muna melalui program Granucci Award dari ANU dan Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA). Tim gabungan yang beranggotakan dosen dan mahasiswa dari Departemen Arkeologi Universitas Indonesia dan Universitas Halu Oleo ini berhasil melakukan dokumentasi pada sembilan gua yang ada di Pulau Muna dalam waktu kurang lebih tujuh hari. Dokumentasi yang dilakukan sendiri bertujuan untuk membuat basis data digital dalam bentuk foto dan model 3D serta mendata jenis kerusakan yang terjadi pada gambar cadas yang ada di Pulau Muna.

Lokasi Penelitian

Hasil dokumentasi menunjukkan kerusakan pada gambar cadas terutama ditemukan pada gua-gua yang berada dekat dengan akses jalan dan menjadi destinasi pariwisata. Kerusakan akibat manusia yang ditemukan antara lain vandalisme (dalam bentuk tulisan dan goresan), sampah, sisa pembakaran, dan perusakan fitur gua untuk kepentingan ekonomi. Kerusakan juga terjadi karena faktor alam, beberapa jenis kerusakan yang dapat diamati adalah kerusakan akibat air, erosi angin, dan serangga. Untuk informasi lebih lengkap silahkan kunjungi laporan lengkap.

Panil Adegan Berburu di Liang Metanduno

Penggambaran Perahu di Liang Metanduno

This project is supported by :

Granucci Award - Indo-Pacific Prehistory Association

Department of Archaeology, Universitas Indonesia

For further access to the data please feel free to contact the author

The technical report of this project is available in ResearchGate