IMG_9001.JPG

A.G PURNAWIBAWA

ROBERTUS D. DARUJATI

RETNO AYU LESTARI

THE PRAU

(Pesisir Jawa Utara)

MARITIME

PROJECT

Mengingat Kembali Tradisi Maritim Nusantara

Kabupaten Rembang, Jawa Tengah

September - Desember 2020

Indonesia, atau yang sebelumnya disebut juga sebagai Nusantara, dianugerahi kekayaan alam berupa pulau-pulau subur dan lautan yang kaya. Sebanyak 17.491 pulau membentang dari timur ke barat membentuk rangkaian kepulauan dengan karakter dan keunikan masing-masing.

Sebagai negara kepulauan, laut merupakan jembatan yang menyatukan dan menghubungkan berbagai suku bangsa di Nusantara. Penguasaan teknologi pembuatan perahu, navigasi, dan pelayaran membuat nenek moyang kita mampu mengarungi lautan untuk berlayar antar pulau, bahkan mampu melintasi samudera hingga sampai ke benua lain. Budaya kehidupan kepulauan ini setidaknya telah dimulai sejak 5000 tahun yang lalu dengan dimulainya migrasi penutur Austronesia dari Formosa ke Nusantara

The Prau (Pesisir Utara Pulau Jawa) Maritime Project merupakan suatu kampanye untuk mengingat kembali identitas bangsa kita. Mengingatkan mengenai cerita nenek moyang dan membagikan akses terbuka atas tinggalan maritim bangsa kita dalam bentuk digital. Pada tahun 2020, melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, program ini kami mulai dengan melakukan dokumentasi pada tinggalan arkeologi berupa Perahu Kuno Punjulharjo di Rembang. Tidak hanya tinggalan arkeologi, tetapi merekam tradisi yang masih hidup juga menjadi perhatian utama dari program ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mencari tahu mengenai tradisi maritim, khususnya pembuatan perahu di Rembang merupakan pekerjaan yang cukup berliku. Catatan mengenai tradisi pembuatan perahu di Rembang tidak banyak disebutkan sebelum masuknya berita dari Eropa. Dari yang kita ketahui, pada abad ke 14, Rembang masih menjadi vassal dari Majapahit di bawah pejabat dengan gelar Bhre Lasem. Dengan posisi strategisnya sangat mungkin Lasem, bersama dengan Gresik (Sedayu dan Jaratan), merupakan wilayah penting bagi kekuatan maritim Majapahit. Selain temuan perahu Punjulharjo dan galangan perahu di Dasun, belum ditemukan bukti lain terkait kemungkinan pembuatan perahu di Rembang.  

Baru pada tahun 1512, disebutkan bahwa Alfonso de Alburquerque berlayar dari Malaka ke Lasem dan kembali dengan membawa 60 orang pembuat perahu. Pada abad ke-16 ini diperkirakan lokasi utama pembuatan perahu-perahu berukuran besar di pesisir utara Jawa berada di Rembang dan Cirebon.

Setelah itu informasi mengenai adanya pembuatan perahu di Rembang dan area disekitarnya banyak kita peroleh dari sumber-sumber Belanda. Adanya perjanjian damai antara Mataram yang dipimpin oleh Amangkurat I dengan VOC (Verenigde Oost-Indische Company) pada 1651 membuat VOC memperoleh izin mendirikan kantor di beberapa daerah di pesisir utara Jawa. Beberapa lokasi yang penting adalah Gresik, Jepara, Demak, dan Rembang. Disebutkan bahwa bengkel perahu berada di Rembang dan Lasem yang saat itu membangun perahu utama dan perahu perang untuk VOC. Rembang yang memiliki sumber daya hutan dan kayu jati yang melimpah dan lokasinya di pesisir utara membuat Rembang sangat strategis sebagai lokasi perbengkelan kapal.

Pada tahun 2008, salah satu temuan perahu kayu penting dalam sejarah maritim di Indonesia secara tidak sengaja ditemukan oleh petani garam di Desa Punjulharjo, Kabupaten Rembang. Perahu ini ditemukan dalam kondisi yang hampir utuh dan berasosiasi dengan temuan berupa fragmen keramik, tembikar, tempurung kelapa, tali ijuk dan sisa-sisa organik lainnya. Perahu Punjulharjo ini terbuat dari kayu dan memiliki ukuran panjang 15 meter serta lebar 4.6 meter. Papan-papan kayu pada perahu disatukan dengan pasak kayu dan teknik ikat, yang merupakan teknologi pembuatan perahu khas kepulauan Asia Tenggara. Teknik ikat digunakan untuk memperkuat kapal, menggunakan tali ijuk sebagai pengikat antara gading-gading dan tambuku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Teknik pembuatan perahu semacam ini diperkirakan ada di Nusantara sejak abad ke-3 sampai abad ke-16. Sementara hasil pengamatan pada perahu Punjulharjo menunjukkan bahwa teknik ikat pada perahu tersebut termasuk fase awal dari tradisi ikat tersebut. Hasil uji radiokarbon pada tali ijuk di Perahu Punjulharjo, menunjukkan bahwa perahu tersebut berasal dari (660-780 M) abad ke 7 atau 8 Masehi, sezaman dengan kerajaan Mataram Kuno dan Sriwijaya. Hal ini membuat perahu Punjulharjo kerap dibandingkan dengan perahu yang dipahatkan pada relief Candi Borobudur.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mengenai bahan baku pembuatan perahu, diketahui perahu Punjulharjo dibuat dari jenis kayu yang ada di Semenanjung Malaka, Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Pengamatan mikroskopis pada bagian papan menunjukkan kayu yang digunakan adalah kayu dari spesies Palaquium gutta, atau yang disebut sebagai kayu Nyatoh. Sementara bagian stringer, diperkirakan berasal dari spesies kayu Scorodocarpus borneoensiis yang disebut juga sebagai kayu Kulim. Bagian terakhir yang diamati adalah pasak pada perahu, pasak tersebut diperkirakan berasal dari spesies Melaleuca leucadendron yang kita kenal sebagai kayu putih. Bahkan kulit kayu putih hingga kini masih digunakan oleh pembuat perahu di Sarang, Rembang sebagai sekat kedap air diantara papan-papan perahu.

Hingga abad ke-21 ini, rupanya tradisi maritim di Rembang masih bertahan. Industri perikanan sebagai salah satu sektor ekonomi andalan Kabupaten Rembang merupakan penggerak utama kegiatan berbasis maritim, disamping produksi garam yang juga banyak diproduksi di Rembang. Setidaknya di Kabupaten Rembang terdapat 3688 perahu layar dan perahu motor yang aktif digunakan untuk mendukung industri perikanan. Salah satu pembuat perahu yang masih eksis di Sarang adalah keluarga Pak Sodiqin Yasir. Pak Sodiqin telah puluhan tahun membuat berbagai jenis perahu berbahan kayu, seperti perahu Mayang dan Pencalang yang merupakan perahu tradisional di Pesisir Utara Jawa. Kayu untuk bahan baku pembuatan perahu sendiri diperoleh dari hutan di Rembang dan kayu-kayu yang didatangkan dari Kalimantan.

 

 

Informasi lebih lengkap terkait Program Fasilitasi Bidang Kebudayaan (FBK) 2020 dapat diakses pada tautan berikut FBK 2020

Untuk membaca buku hasil kegiatan The Prau Maritime Project, kunjungi link berikut: Tradisi Maritim Rembang